Akrobat Vendor Smartphone Mengatasi Kekurangan Chip

Jakarta, Selular. ID – Meski pandemi covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, seruan terhadap produk-produk ponsel justru mengalami peningkatan. Laporan Gartner membuktikan penjualan smartphone global sepanjang Q2-2021 mencapai 328, 8 juta unit, naik bertambah dari 10% dibandingkan era yang sama tahun sebelumnya.  

Gartner mencatat, kecuali Huawei yang kini terpental dari posisi lima luhur, posisi elit masih diisi oleh vendor-vendor lama. Samsung memang masih mampu menegakkan posisi sebagai pemuncak pasar ponsel global. Meski demikian, posisi tersebut rawan dikudeta oleh Xiaomi yang semakin berkembang pesat.

Xiaomi dasar semakin “berotot”. Untuk kala pertama penjualan brand ponsel pintar asal China tersebut di seluruh dunia berpunya menyalip Apple, sehingga membawa Xiaomi di posisi kedua. Dalam periode itu, vendor yang berbasis di Beijing itu mencatat pertumbuhan mematok 80, 5% menjadi 51 juta unit, didukung sebab kehadiran online yang bertambah kuat dan ekspansi lekas di luar Asia-Pasifik.

Dalam tempat ketiga, Apple memajukan penjualan 28, 3% menjelma 49, 3 juta, dengan permintaan untuk seri iPhone 12 tetap kuat dalam pasar 5G. Sementara kepala pasar, Samsung memperluas membentangkan 5G pada harga entry level dan menengah untuk menargetkan permintaan konektivitas tingkatan berikutnya. Strategi ini positif Samsung meraih penjualan 57, 7 juta unit dipadankan dengan 54, 8 juta pada Q2-2020.

Dua vendor China yang sama-sama bernaung di bawah BBK Group, Oppo dan Vivo menyelesaikan lima besar, masing-masing memajukan penjualan sebesar 42, 4% menjadi 33, 6 juta dan 41, 6% menjadi 32, 2 juta. Anshul Gupta, Direktur Riset Senior Gartner,   mengatakan bahwa permintaan terpendam pada tahun lalu “terus mendorong keuntungan bagi vendor smartphone global pada 2021”.

Laporan Gatner tentang balik pulihnya pasar smartphone, memperkuat laporan berbagai lembaga riset sebelumnya, seperti Canalys. Patuh perkiraan terbaru Canalys, rekan smartphone di seluruh dunia akan tumbuh sebesar 12% pada 2021, dengan pengiriman mencapai 1, 4 miliar. Pencapaian itu menunjukkan perbaikan yang kuat dibandingkan 2020, ketika pengiriman turun sebesar 7% karena kendala rekan utama yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Canalys memperhitungkan bahwa smartphone menjadi benda yang  sangat penting untuk membina orang tetap terhubung & terhibur, dan mereka serupa pentingnya di dalam panti seperti di luar. Di beberapa bagian dunia, karakter tidak dapat menghabiskan uang untuk liburan, sehingga banyak yang menghabiskan pendapatan itu untuk membeli smartphone baru.

Smartphone 5G

Di sisi lain, Direktur Riset Canalys Ben Stanton, mengatakan bahwa pulihnya rekan menujukkan ketangguhan industri smartphone yang cukup istimewa. Dia menilai terdapat momentum berpengaruh di balik melonjaknya suruhan smartphone di seluruh negeri. Salah satunya dipicu oleh penjualan handset 5G, dengan menyumbang 37% dari pengiriman global pada Q1-2021, dan diperkirakan mampu mencapai maka 43% untuk setahun penuh (610 juta unit).

Namun permintaan smartphone 5G dengan terus meningkat, tentunya akan mendorong persaingan harga yang ketat antar vendor. Biar bisa bersaing, banyak vendor yang pada akhirnya mengorbankan fitur lain, seperti tampilan atau daya, demi mengakomodasi 5G di perangkat termurah.  

Semakin meningkatnya pamor perangkat 5G, maka kemajuan juga akan semakin menyusun sepanjang tahun ini. Canalys memperkirakan sebanyak 32% dari semua perangkat 5G dengan dikirimkan akan berharga invalid dari US$300. Semakin terjangkaunya harga smartphone 5G, dengan sendirinya mendorong adopsi massal.  

Sayangnya momentum kemajuan itu, terkendala oleh kurangnya pasokan komponen. Sehingga menyekat potensi pertumbuhan pengiriman smartphone pada tahun ini. Makin minimnya pasokan komponen diprediksi baru akan berakhir dalam 2023 mendatang.

“Pesanan mula sedang meningkat, namun pabrik tengah berjuang untuk semikonduktor, dan setiap merek bakal merasakan kesulitan, ” perkataan Stanton.

Tak dapat dipungkiri kekurangan chipset global sejauh ini telah berdampak dalam semua industri. Pandemi Covid-19 memang menjadi satu diantara pemicu berkurangnya produksi. Meski serupa itu, Sanksi Pemerintah Amerika Konsorsium (AS) terhadap perusahaan teknologi China semakin memperburuk genting.

Alhasil, kekurangan pasaokan yang awalnya hanya terjadi dalam industri otomotif, kini merembet ke berbagai elektronik konsumen lain, seperti smartphone, jinjing,   home appliances , hingga konsol game.

Produsen yang membutuhkan chipset dalam memproduksi barangnya kendati melakukan aksi beli nanar ( panic buying ), demi menyembunyikan pasokan. Pasokan semikonduktor pula akhirnya semakin tipis. Kenistaan pasokan mengakibatkan biaya produksi seluruh komponen meningkat. Bahkan, komponen berbiaya termurah sekalipun. Akibatnya, harga produk akhir semikonduktor terkerek naik.

Taat pengamat gadget Lucky Sebastian, berkurangnya pasokan komponen pertama chip yang merupakan budi dari smartphone, akan mendesak vendor untuk berakrobat – ria. Vendor dipaksa mengambil keputusan strategis agar tidak terkubur dari persaingan.

“Mulai dari menaikan harga, men-downdgrade spesifikasi, menghentikan produksi kaum line-up, hingga mengurangi produksi”, ujar Lucky, seperti disampaikan dalam forum diskusi maya Bincang Eksekutif Selular. ID, membahas tema “Saling Sodok Vendor Smartphone di Pasar Domestik”, Rabu (13/9/2021).  

Lucky yang juga mendiri komunitas Gadtorade menilai, pada jangka pendek kelangkaan pasokan akan menghambat penjualan smartphone di Indonesia, yang sebelumnya terlihat mulai pulih meski pandemik belum akan berakhir. Meski demikian, ke ajaran ia memprediksi pasar kembali bergairah mengingat Indonesia telah memasuki era 5G.  

Dengan harga smartphone yang semakin terjangkau, banyaknya merek yang saling bersaing, & kelak alokasi band frekwensi yang banyak digunakan di dunia, membuat smartphone 5G kelak akan menjadi mangsa masyarakat Indonesia, tandas Lucky.

CategoriesINFO